Indonesia yang berada di garis khatulistiwa menerima paparan sinar ultraviolet (UV) tinggi sepanjang tahun, sekitar 600 Mega Joule/m2/tahun. Paparan ini tidak hanya berdampak pada manusia dan lingkungan, tetapi juga pada material teknologi seperti sel surya. Intensitas UV yang besar dapat memicu degradasi pada lapisan aktif sel surya, menurunkan kinerja, mengubah struktur material, hingga memperpendek umur pakai perangkat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, peneliti mengembangkan lapisan pelindung yang dianalogikan sebagai “sunscreen” bagi sel surya. Prinsipnya, lapisan ini menyerap sinar UV sebelum mencapai komponen yang sensitif, sehingga risiko degradasi berkurang. Salah satu kandidat yang diteliti adalah senyawa kompleks seng (Zn) salisilat, yang disebut mampu menyerap UV secara selektif berkat struktur aromatik dan gugus fungsionalnya yang stabil.
Kompleks Zn salisilat bekerja dengan mekanisme serupa sunscreen pada kulit, yakni menangkap dan menyerap energi UV agar spektrum berbahaya tidak menembus lapisan sensitif pada sel surya. Sejumlah kajian menunjukkan senyawa kompleks salisilat dapat dipadukan dalam bentuk pelapis tipis (thin film coating) tanpa mengganggu penyerapan cahaya tampak yang dibutuhkan sel surya untuk menghasilkan energi.
Material ini juga dinilai memiliki kestabilan termal dan kimia yang baik, sehingga dipandang relevan untuk kondisi tropis seperti Indonesia, di mana intensitas UV dan suhu lingkungan cenderung tinggi. Dengan kemampuan melindungi sel surya dari degradasi fotokimia, sunscreen berbasis kompleks salisilat berpotensi menjadi pendekatan untuk meningkatkan durabilitas panel surya, terutama untuk penggunaan jangka panjang di wilayah dengan radiasi UV ekstrem.
Dalam publikasi yang ditulis Harsasi Setyawati bersama Syafsir Akhlus dan Irmina Kris Murwani, kompleks Zn salisilat dilaporkan memiliki kemampuan penyerapan sinar UVA sebesar 40%, serta penyerapan UVB dan UVC di atas 90%. Senyawa tersebut juga disebut mampu mentransmisikan cahaya tampak di atas 98%, sehingga dinilai cocok digunakan sebagai pelindung sel surya tanpa menghambat masuknya spektrum cahaya yang dibutuhkan untuk konversi energi.
Riset ini dilakukan oleh Grup Riset Renewable Energy and Energy Conversion (REEC), Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, dan dipublikasikan dalam Journal of Science: Advanced Materials and Devices edisi Desember 2025.