Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan Indonesia akan mulai mengalami depopulasi atau penurunan jumlah penduduk pada 2059. Dalam proyeksi tersebut, rata-rata penurunan populasi Indonesia diperkirakan mencapai 660.440 jiwa per tahun pada periode 2059 hingga 2100.
Meski demikian, pada pertengahan 2025 Indonesia masih berada di posisi keempat negara dengan populasi terbesar di dunia, yakni 285,72 juta jiwa. Jumlah itu berada di bawah India (1,46 miliar), Tiongkok (1,42 miliar), dan Amerika Serikat (347,28 juta). Secara umum, pertumbuhan penduduk dipengaruhi tiga komponen utama: angka kelahiran, angka kematian, dan migrasi.
Fenomena depopulasi bukan hal baru di sejumlah negara Asia Timur. Jepang diprediksi menyusut menjadi 87 juta jiwa pada 2070, terutama karena tingginya populasi lansia yang tidak diimbangi angka fertilitas. Sementara itu, Korea Selatan mencatat pertumbuhan populasi minus 0,08 persen pada 2024 dan disebut sebagai negara dengan tingkat fertilitas terendah di dunia.
Di Indonesia, perhatian tertuju pada tren penurunan angka pernikahan dalam satu dekade terakhir. Data 2024 menunjukkan angka pernikahan mencapai titik terendah dengan sekitar 1,4 juta pernikahan. Jumlah itu turun hampir 30 persen dibandingkan 2014 yang mencatat 2,1 juta pernikahan.
Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya dinilai turut mendorong generasi milenial dan Gen Z menunda pernikahan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat berimbas pada keberlanjutan wilayah dengan jumlah penduduk kecil serta keberlangsungan suku bangsa tertentu di Nusantara, jika tidak diikuti kajian yang mendalam dan holistik.
Di tengah perubahan tersebut, digitalisasi menghadirkan alternatif interaksi sosial melalui aplikasi pencari jodoh seperti Tinder, Setipe, hingga Taaruf.id. Dari sisi ekonomi, platform semacam ini menciptakan pasar yang lebih minim hambatan (frictionless market) dengan memangkas biaya transaksi sosial yang sebelumnya muncul dalam cara-cara tradisional.
Namun, kemudahan itu juga memunculkan paradox of choice, ketika banyaknya opsi justru membuat pengguna mengalami kelelahan dalam mengambil keputusan (decision fatigue). Selain itu, aplikasi kencan turut menggeser persepsi terhadap pasangan menjadi “komoditas” yang dinilai dari kemasan visual dan deskripsi singkat. Di kota-kota besar dengan jam kerja tinggi, aplikasi ini kerap dipandang sebagai cara yang lebih efisien untuk berkenalan, meski tetap menyisakan persoalan.
Salah satu risiko yang disorot adalah asimetri informasi, ketika data pengguna dapat dimanipulasi. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dinilai dapat semakin mengaburkan keaslian profil, sehingga menambah tantangan dalam membangun kepercayaan.
Dari perspektif penyedia layanan, model bisnis berbasis langganan disebut menciptakan insentif agar pengguna tetap berada dalam ekosistem aplikasi. Algoritma dirancang sedemikian rupa sehingga pengguna tidak segera menghapus aplikasi, yang menunjukkan bagaimana kebutuhan koneksi manusia dapat dimonetisasi secara sistematis. Ketidakseimbangan informasi ini berpotensi memunculkan eksternalitas negatif berupa penurunan kepercayaan sosial.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa dinamika pasar kini merambah ruang privat manusia. Dalam konteks ini, kesadaran pengguna untuk menempatkan nilai kemanusiaan di atas efisiensi transaksi dipandang penting agar digitalisasi relasi tidak sekadar menjadi partisipasi pasif dalam “pasar kesepian” yang dikhawatirkan dapat mempercepat laju depopulasi.
Informasi mengenai proyeksi kependudukan dan tren sosial ini merujuk pada data PBB serta laporan perkembangan angka pernikahan nasional yang dirilis melalui berbagai saluran resmi pemerintah dan lembaga riset terkait.