BERITA TERKINI
Pupuk Indonesia Gelar FertInnovation Challenge 2026, Diikuti Lebih dari 1.620 Inovator

Pupuk Indonesia Gelar FertInnovation Challenge 2026, Diikuti Lebih dari 1.620 Inovator

Jakarta — PT Pupuk Indonesia (Persero) kembali menyelenggarakan FertInnovation Challenge 2026 yang diikuti lebih dari 1.620 inovator dari kalangan mahasiswa, peneliti, profesional, hingga startup. Para peserta berasal dari berbagai institusi di dalam dan luar negeri.

Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia, Jamsaton Nababan, mengatakan ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga instrumen strategis perusahaan untuk membangun pipeline riset dan inovasi yang relevan dengan tantangan sektor pertanian serta industri pupuk nasional.

“FertInnovation Challenge bukan sekadar kompetisi inovasi, tetapi sebagai instrumen strategis perusahaan untuk membangun pipeline riset dan inovasi yang relevan dengan tantangan sektor pertanian dan industri pupuk nasional. Ajang ini sejalan dengan komitmen Pupuk Indonesia dalam mendukung swasembada pangan nasional melalui penguatan inovasi, teknologi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan,” kata Jamsaton, dikutip Minggu (8/2/2026).

Pada penyelenggaraan tahun ini, Pupuk Indonesia berkolaborasi dengan Indonesia Agrichemical Research Institute (IARI). Platform dua tahunan tersebut disebut menjadi media bagi Pupuk Indonesia untuk mendorong transformasi pertanian berbasis inovasi.

FertInnovation Challenge 2026 dirancang sebagai platform open innovation untuk menyerap gagasan transformatif dari inovator eksternal, sekaligus menjawab tantangan keberlanjutan dan agenda kemandirian pangan Indonesia.

Tahun ini, FertInnovation Challenge mengusung tema “Cultivating Innovation, Achieving Food Self-Sufficiency”. Pupuk Indonesia mencatat antusiasme peserta tercermin dari partisipasi lintas disiplin dan lintas institusi yang ikut berkontribusi dalam setiap kategori.

Adapun empat kategori yang dilombakan meliputi Precision Agriculture & Digital Farming, Climate Resilience & Sustainable Fertilizer, AI-Driven Agri Supply Chain, serta Process & Plant Engineering. Setiap karya inovasi yang masuk telah melalui seleksi bertahap, mulai dari screening administratif hingga final pitching.

Menurut Jamsaton, keempat kategori tersebut disusun untuk menjawab kebutuhan inovasi dari hulu hingga hilir, mulai dari teknis budidaya tanaman presisi, sistem distribusi dan rantai pasok pupuk, aspek keberlanjutan lingkungan, hingga keandalan proses dan fasilitas produksi.