BERITA TERKINI
Raditya Dika Bagikan Cara Berinovasi dan Mengatasi Mandek Berkarya saat Berbincang dengan Mario dan Niky

Raditya Dika Bagikan Cara Berinovasi dan Mengatasi Mandek Berkarya saat Berbincang dengan Mario dan Niky

Podcaster dan penulis Raditya Dika berbincang santai dengan Mario dan Niky, duo yang dikenal melalui kanal “Keluarga Artis”. Dalam obrolan yang berlangsung hangat di suasana Ramadan itu, mereka membahas proses kreatif, produktivitas, hingga cara menghadapi rasa takut sebagai bagian dari proses berkembang.

Percakapan juga menyinggung nostalgia masa kecil. Niky menceritakan tradisi keluarganya yang kerap menghabiskan libur Lebaran di kawasan Ancol. Dari cerita tersebut, diskusi kemudian mengalir ke topik yang lebih luas tentang kebiasaan, pengalaman, dan pengaruhnya terhadap kreativitas.

Mario dan Niky menanyakan bagaimana Raditya Dika bisa melahirkan karya yang kemudian dikenal luas, seperti “Malam Minggu Miko”. Raditya menekankan pentingnya berani tampil berbeda. Ia memaparkan tiga cara untuk berinovasi, yakni menambah, mengurangi, atau mengubah fungsi dari sesuatu yang sudah ada. Menurutnya, kunci lain adalah mencari elemen unik yang belum pernah dilakukan di Indonesia.

Raditya tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga memberi tantangan langsung. Ia meminta Mario dan Niky menjadi pembuka (opener) dalam acara stand-up comedy-nya. Meski keduanya tampak gugup, Raditya mengatakan rasa tidak nyaman justru dapat menjadi tanda seseorang sedang bertumbuh.

Dalam kesempatan itu, Mario mengungkapkan dirinya sempat mandek selama setahun di bab ketiga saat menulis buku. Menanggapi hal tersebut, Raditya memberikan tiga saran praktis: menyelesaikan draf pertama apa pun kondisinya dengan prinsip “done is better than perfect”; memisahkan fase menulis dan mengedit, termasuk menyarankan agar tidak menggunakan tombol “backspace” saat menulis; serta menerapkan prinsip “eat the frog” dengan mengerjakan tugas tersulit di pagi hari agar sisa hari terasa lebih ringan.

Raditya menegaskan bahwa keberanian untuk keluar dari kebiasaan lama penting untuk mendorong kemajuan. Ia juga menekankan kembali prinsip “selesai lebih baik daripada sempurna” sebagai kunci agar sebuah karya benar-benar tuntas. Sementara itu, prinsip “makan katak” disebutnya dapat membantu menjaga ritme kerja dan meningkatkan produktivitas.

Secara keseluruhan, percakapan tersebut tidak hanya bersifat menghibur, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya rasa syukur dan kerja keras sebagai fondasi dalam mengejar tujuan.