Pada dekade 1990 hingga 2000-an, angkutan kota (angkot) menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari warga Kota Bekasi. Salah satu yang paling dikenal adalah angkot koasi K10 dengan rute Ujungharapan–Terminal Bekasi. Setiap pagi, ratusan angkot dari berbagai trayek mengalir memenuhi jalan-jalan utama, mengantar pelajar, pekerja, hingga ibu-ibu yang berbelanja ke pasar.
Sejumlah ruas jalan seperti Ujungharapan, Kaliabang Tengah, Jalan Ahmad Yani, hingga Terminal Bekasi menjadi saksi ramainya mobilitas pada masa itu. Para sopir mengenangnya sebagai era keemasan ketika penumpang melimpah, frekuensi perjalanan padat, dan waktu tunggu nyaris tidak ada karena selalu ada penumpang naik-turun di berbagai titik.
“Masa itu masa kejayaaan angkot. Saya narik selalu ramai, penumpang penuh, bahkan ada yang sampai gelantungan di pintu,” ujar Amin, pensiunan sopir koasi K10 jurusan Ujungharapan–Terminal Bekasi, saat ditemui Selasa (10/2).
Menurut Amin, penumpang angkot datang dari lintas generasi. Pagi hari didominasi pelajar dan pekerja, sementara sore hingga malam diisi karyawan yang pulang kerja. Terminal Bekasi menjadi titik akhir yang ramai, berfungsi sebagai simpul transportasi yang nyaris tak pernah sepi.
Di masa kejayaannya, satu armada angkot disebut mampu menempuh belasan rit per hari. Setoran harian relatif aman dan bahkan memungkinkan sebagian sopir menabung. Ada pula yang dapat menyekolahkan anak hingga jenjang tinggi, mencicil rumah sederhana, atau menambah armada baru dari hasil menarik angkot.
“Saya narik angkot sekitar tahun awal 2000-an. Waktu itu anak sekolah masih banyak yang naik angkot. Orang kerja juga antri. Lumayan lah kalau buat makan dan sekolahin anak,” kata Amin.
Angkot juga menjadi ruang interaksi sosial yang hangat. Sopir dan penumpang kerap saling mengenal, dan dalam beberapa situasi anak sekolah bahkan diizinkan menumpang tanpa membayar. Kepercayaan tumbuh di jalanan kota yang kala itu disebut belum sepadat sekarang.
Keramaian angkot turut menghidupkan ekosistem ekonomi kecil di sekitarnya. Warung makan, tukang tambal ban, hingga jasa terminal ikut bergantung pada arus penumpang yang terus bergerak dari pagi hingga malam.
Namun, kejayaan itu perlahan meredup seiring perubahan zaman. Meningkatnya penggunaan sepeda motor sebagai kendaraan pribadi, disusul hadirnya transportasi modern dan layanan berbasis aplikasi, disebut menggerus jumlah penumpang. Kemacetan yang kian parah juga membuat waktu tempuh angkot tidak lagi pasti dan daya saingnya menurun.
Saat ini, angkot rute Ujungharapan–Terminal Bekasi masih beroperasi, tetapi tidak lagi dengan irama yang sama. Bangku kosong lebih sering terlihat, dan para sopir kini lebih banyak menunggu dibanding melaju seperti dulu.
Meski begitu, angkot tetap memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Kota Bekasi. Moda transportasi ini pernah menjadi tulang punggung mobilitas warga, mengantar pelajar, pekerja, dan pedagang dalam masa pertumbuhan kota.