BERITA TERKINI
Sinopsis "If Wishes Could Kill": Teror Aplikasi Pengabul Keinginan di Lingkungan Sekolah

Sinopsis "If Wishes Could Kill": Teror Aplikasi Pengabul Keinginan di Lingkungan Sekolah

Drama If Wishes Could Kill menghadirkan perpaduan horor, thriller, dan misteri dengan latar kehidupan remaja. Tayang mulai 24 April di Netflix, serial ini mengangkat kisah tentang konsekuensi dari sebuah keinginan yang pada awalnya tampak terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Cerita berpusat di Seorin High School, tempat lima sahabat menjalani keseharian remaja yang dipenuhi mimpi, tekanan sosial, serta keinginan untuk diakui. Situasi berubah ketika mereka menemukan sebuah aplikasi misterius bernama Girigo. Aplikasi itu segera menarik perhatian karena diklaim mampu mengabulkan setiap keinginan penggunanya.

Pada awalnya, Girigo terlihat seperti jawaban atas berbagai masalah yang mereka hadapi. Keinginan sederhana hingga ambisi pribadi pun mulai mereka ucapkan, dengan harapan hidup menjadi lebih baik. Namun, seiring waktu, harapan tersebut berubah menjadi mimpi buruk.

Setiap keinginan yang terkabul ternyata disertai konsekuensi mengerikan. Pengguna aplikasi Girigo disebut akan menghadapi kematian yang datang tiba-tiba dan tak terhindarkan. Ketakutan pun menyelimuti mereka ketika menyadari bahwa apa yang semula dianggap berkah justru menjadi kutukan mematikan.

Di tengah tekanan, hubungan kelima sahabat itu mulai diuji. Rasa curiga, ketakutan, dan penyesalan muncul saat mereka berusaha memahami cara kerja Girigo serta mencari kemungkinan untuk menghentikannya. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap rahasia di balik aplikasi tersebut sebelum korban berikutnya berjatuhan.

Selain menyuguhkan ketegangan, drama ini juga melempar pertanyaan tentang batas risiko yang bersedia diambil seseorang demi mewujudkan keinginannya, serta apakah semua keinginan memang layak untuk dikabulkan.

If Wishes Could Kill disebut diperkuat jajaran aktor muda. Dengan alur penuh misteri dan suasana mencekam, drama ini menawarkan cerita yang menempatkan keinginan manusia dan konsekuensinya sebagai pusat konflik.