Di bawah terik siang di Desa Setanggor, Lombok Timur, Isnawati Kamariah—akrab disapa Isna—tetap melayani pembeli dari balik warung sederhananya. Buah-buahan segar dan aneka makanan ringan tersusun di etalase kecil, sementara Isna menyapa setiap pelanggan dengan ramah.
Pada Rabu, 22 April 2026, warung Isna kedatangan Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Alfreno Kautsar Ramadhan. Isna menyambut kedatangan tamunya dengan hangat, sebagaimana ia melayani pelanggan sehari-hari.
Dalam perbincangan singkat, Isna menceritakan perubahan cara berdagang sejak internet hadir di desanya. Jika sebelumnya ia harus berkeliling atau berseru menawarkan dagangan, kini ia memanfaatkan teknologi untuk menjangkau lebih banyak orang. “Sekarang bisa live di Facebook. Jadi lebih gampang. Dulu tidak terpikir bisa jualan seperti ini,” kata Isna.
Perubahan juga terlihat pada cara transaksi. Isna menunjukkan bahwa pembeli kini dapat membayar menggunakan QRIS, yang memudahkan proses pembayaran bagi pelaku usaha kecil di desa.
Setelah bertransaksi, Isna meminta berfoto bersama Alfreno. Momen itu menutup pertemuan singkat yang berlangsung hangat di warung kecil tersebut.
Kehadiran akses internet di Desa Setanggor merupakan bagian dari program Kampung Internet yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Digital. Program ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM di berbagai daerah.
Alfreno mengaku terkesan dengan perkembangan yang dilihatnya secara langsung. Ia menilai potensi UMKM di wilayah tersebut tumbuh lebih cepat dari perkiraan, khususnya di Desa Setanggor dan Desa Jeruk Manis. “Program Kampung Internet ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mencapai target RPJMN, terutama dalam perluasan cakupan fixed broadband. Ditargetkan pada 2029, sebanyak 90 persen kecamatan di Indonesia sudah terlayani,” ujarnya.
Untuk mendukung keberlanjutan program, pemerintah menanggung biaya akses internet selama enam bulan hingga satu tahun sejak peluncuran pada September 2025. Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Komdigi, Mulyadi, mengatakan dukungan pembiayaan disesuaikan dengan kebijakan di masing-masing wilayah. “Pembiayaan diberikan selama enam bulan sampai satu tahun, tergantung kebijakannya,” kata Mulyadi.
Mulyadi menambahkan, desa yang belum terjangkau jaringan fiber optik tetapi memiliki potensi ekonomi akan diprioritaskan untuk pembangunan jaringan melalui kerja sama dengan penyedia layanan internet.
Bagi Isna, internet bukan sekadar koneksi, melainkan cara baru untuk membuka peluang. Dari warung kecil di sudut desa, ia kini dapat memasarkan dagangannya lebih luas dan melayani transaksi secara nontunai, seiring perubahan yang dibawa akses digital ke aktivitas ekonomi warga.