Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprioritaskan pengembangan riset dengan tingkat kesiapterapan teknologi (Technology Readiness Level/TRL) di atas lima untuk mempercepat pemanfaatan inovasi. Meski demikian, BRIN menegaskan riset dasar tetap dipertahankan sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, kebijakan tersebut ditempuh agar hasil riset dapat lebih cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, industri, dan pembuat kebijakan, tanpa memutus kesinambungan riset jangka panjang. “Sebagian besar riset yang kita dorong sekarang adalah yang TRL-nya di atas lima, supaya bisa dipercepat menjadi inovasi yang siap digunakan. Tapi riset dasar tetap ada dan tidak kita tinggalkan,” kata Arif dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk “Arah Baru Riset dan Inovasi Nasional” di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (23/12).
Menurut Arif, keseimbangan antara riset terapan dan riset dasar menjadi kunci untuk membangun ekosistem riset nasional yang kuat. Ia menilai riset dasar diperlukan untuk menjawab tantangan strategis jangka panjang, sedangkan riset terapan dibutuhkan untuk mendukung pembangunan serta industrialisasi dalam waktu yang lebih dekat.
Arif juga menyebut pendekatan tersebut sejalan dengan praktik lembaga riset internasional. Ia mencontohkan model di Jerman yang membedakan peran lembaga riset dasar dan riset terapan, namun tetap berada dalam satu ekosistem. “Kita mengenal Fraunhofer-Gesellschaft yang fokus pada riset terapan dan Max Planck Institute yang kuat di riset dasar. Pendekatan itu juga kami terapkan di BRIN,” ujarnya.
BRIN menargetkan pada 2026 sudah tersedia daftar inovasi dan prototipe yang siap dimanfaatkan, terutama dari riset dengan TRL menengah hingga tinggi. “Target kami jelas, 2026 sudah ada daftar inovasi dan prototipe yang siap digunakan dan berdampak,” kata Arif.
Ia menegaskan, percepatan riset terapan tidak berarti mengorbankan kualitas ilmiah. Menurutnya, seluruh proses penelitian tetap harus berbasis data, metode ilmiah, dan pengujian yang ketat. “Riset harus tetap berbasis sains. Kita tidak mengejar cepat saja, tapi juga harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Dalam konteks riset dasar, Arif menilai sejumlah bidang membutuhkan waktu panjang untuk mencapai tahap penerapan, seperti bioteknologi, pangan, dan kelautan. Karena itu, riset-riset tersebut tetap didorong meski hasilnya tidak dapat langsung diaplikasikan dalam waktu singkat. “Untuk beberapa bidang, memang butuh waktu lama, bisa 10 sampai 15 tahun. Itu tidak masalah, yang penting kita mulai dari sekarang,” katanya.
Arif menambahkan, arah riset BRIN juga disesuaikan dengan kebutuhan nasional, antara lain pangan, energi, air, kesehatan, dan industri strategis. Riset di bidang-bidang tersebut diharapkan mendukung kebijakan berbasis sains serta mengurangi ketergantungan impor.
Selain itu, BRIN juga mengarahkan kebijakan riset untuk memperkuat kebijakan berbasis sains (science-based policy). Arif menekankan pentingnya periset menyampaikan rekomendasi berdasarkan data dan hasil riset, bukan spekulasi, agar kebijakan yang dihasilkan memiliki legitimasi ilmiah. “Yang penting adalah keseimbangan. Riset terapan kita percepat, riset dasar kita jaga. Dua-duanya saling menguatkan,” kata Arif.