Fenomena kecanduan internet akut dilaporkan kian mengkhawatirkan di kalangan warga lanjut usia (lansia) di China. Sejumlah lansia disebut menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel untuk menonton siaran langsung, berbelanja daring, hingga mengakses beragam konten video pendek sebagai cara mengusir kesepian.
Kecanduan internet akut merujuk pada pola penggunaan internet berlebihan yang sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. Dalam sejumlah kasus, ketergantungan itu muncul ketika lansia merasa terisolasi dan minim interaksi sosial di dunia nyata, sehingga internet menjadi sarana mencari koneksi, hiburan, maupun informasi.
Salah satu pengalaman yang mencuat disampaikan Wang Qingfeng, warga Shaoxing berusia 46 tahun di Provinsi Zhejiang. Wang menceritakan ayahnya yang berusia 70 tahun mulai kecanduan menonton siaran langsung di Douyin setelah pindah ke rumahnya pada 2023, tak lama setelah ibunya meninggal.
“Ayah saya sangat suka menonton siaran langsung di Douyin dan memberi tip kepada para penyiar wanita. Dia mulai menonton sangat pagi dan terkadang begadang hingga larut malam untuk menonton siaran tersebut,” kata Wang. Ia menambahkan, ayahnya menghabiskan sekitar 10.000 yuan pada Desember untuk memberi tip kepada para penyiar.
Wang mengatakan ia memahami kondisi ayahnya karena tidak memiliki teman di lingkungan baru dan hiburan utamanya adalah ponsel. Ia juga menyebut banyak koleganya mengeluhkan hal serupa, mulai dari orang tua yang kecanduan membeli produk kesehatan murah secara online hingga menonton drama mini berbayar di platform video pendek.
Di sisi lain, jumlah pengguna internet lansia di China terus bertambah seiring meluasnya akses jaringan. Pada Desember 2025, China tercatat memiliki sekitar 1,125 miliar pengguna internet. Laporan Pusat Informasi Jaringan Internet China (CNNIC) yang dirilis 5 Februari menyebut lebih dari 80% penduduk China memiliki akses internet, dengan hampir 54% kelompok usia 60 tahun ke atas telah online pada periode yang sama.
Menurut Wang Wenda, Direktur Pendidikan Kesehatan Psikologis di Xinhua College, Universitas Ningxia, lansia di China cenderung memainkan peran sosial yang makin berkurang seiring bertambahnya usia, baik dalam keluarga maupun di pasar kerja. Kondisi ini dapat menimbulkan perasaan kehilangan.
“Mereka mungkin merasakan kehilangan. Internet menjadi pelarian, menawarkan tempat untuk melepaskan diri dari dunia nyata,” ujar Wang Wenda. Ia menilai aktivitas seperti memberi tip kepada penyiar atau belanja online dapat memberi sebagian lansia rasa hormat dan kendali yang dirasa memudar dalam kehidupan nyata.
Wang Wenda memperingatkan, kecanduan dapat terlihat ketika kehidupan lansia sepenuhnya dipenuhi aktivitas online, tidak mampu mempertahankan jadwal harian normal, atau tidak bisa mengendalikan perilaku memberi tip maupun belanja daring. Gejala lain yang dinilai berbahaya adalah kecenderungan mempercayai informasi online yang tidak dapat diandalkan secara membabi buta, serta mudah kehilangan kesabaran ketika tidak dapat menggunakan ponsel dalam jangka waktu tertentu.
Peneliti Pusat Penelitian Penuaan China di Beijing, Yang Xiaoqi, menambahkan bahwa kesepian dan stimulasi kuat dari internet menjadi faktor kunci di balik kecanduan internet pada lansia.
Para ahli juga mengingatkan adanya risiko lain yang mengintai. Seiring kemajuan kecerdasan buatan dan semakin kaburnya batas antara konten nyata dan palsu, lansia yang kecanduan internet dinilai menghadapi risiko penipuan daring yang lebih tinggi.
Untuk menekan masalah tersebut, Wang Wenda menekankan pentingnya membantu lansia mendapatkan kembali rasa harga diri melalui aktivitas di dunia nyata, misalnya merawat cucu, memelihara hewan peliharaan, atau membangun hubungan sosial. Ia juga menyoroti peran keluarga dalam mendiskusikan waktu penggunaan ponsel dan menetapkan batas pembayaran pada platform pembayaran seluler.
Dari sisi kebijakan, pemerintah diharapkan ikut berperan dengan mempromosikan pengetahuan anti-penipuan di kalangan lansia, termasuk melalui pemanfaatan big data dan pemberitahuan push ke ponsel mereka.