Ketegangan muncul antara militer Amerika Serikat dan perusahaan kecerdasan buatan (AI) Anthropic terkait pembatasan penggunaan teknologi AI untuk kebutuhan militer. Perselisihan ini berpusat pada kebijakan Anthropic yang membatasi pemanfaatan sistem AI dalam operasi sensitif.
Secara khusus, perusahaan yang berbasis di San Francisco itu membatasi penggunaan AI untuk kegiatan seperti penargetan lawan serta pengawasan atau pemantauan warga. Kebijakan tersebut memicu keberatan dari pihak militer, yang menilai persyaratan Anthropic terlalu berlebihan dan berpotensi mengurangi fleksibilitas pemanfaatan teknologi di medan perang.
Dampak perbedaan pandangan ini terlihat pada kerja sama kedua pihak. Kontrak bernilai sekitar 200 juta dolar AS—setara Rp 3,3 triliun—dilaporkan terhenti di tengah jalan. Sejumlah pejabat militer mempertanyakan ketentuan yang diajukan Anthropic, sebagaimana diberitakan Reuters.
Di sisi lain, Anthropic menegaskan pembatasan tersebut merupakan bagian dari komitmen etika AI untuk mencegah penyalahgunaan teknologi berisiko tinggi. Perusahaan menyampaikan kekhawatiran bahwa perangkat AI dapat digunakan dalam operasi mematikan tanpa pengawasan manusia yang memadai, atau dimanfaatkan untuk memata-matai warga Amerika.